“Assalamualaikum, sayang…
Sebelumnya bunda minta maaf karena tidak bisa selalu ada di samping mu, nak. Melihatmu tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan cerdas. Menunggumu membuatkan sepasang kaki tercanggih untuk bunda dan berlari bersama di buliran pasir yang tersapu ombak laut. Penyakit kangker ini, membuat bunda tidak punya banyak waktu sayang.
Sayang, sesulit apapun hidup yang engkau jalani kelak, hingga dadamu terasa begitu sesak. Kau tidak pernah sedirian. Karena Alloh telah berjanji menyediakan kemudahan setelah kesulitan dan kelak Dia akan memberikan karuniaNYA hingga hatimu menjadi puas.
Jika kegagalan itu mebuatmu begitu merasa kecewa dan terisak. Sediakanlah keranjang maaf yang besar untuk memafkan dirimu karena seseorang yang luar biasa bukan hanya seseorang yang selalu mampu mendapatkan segala yang ia inginkan, tapi lebih dari itu, seseorang yang luar biasa adalah seseorang yang mampu berdiri tegak menghadapi kegagalannya, lalu mengubahnya menjadi hal paling luarbiasa yang pernah dibuat oleh manusia. Jika seluruh dunia menyalahkanmu, hal itu tidak akan lebih menyakitkan dari kesedihan karena kamu tidak mampu menyediakan maaf bagi dirimu sendiri.
Sayang, setiap orang pasti mampu berubah untuk jadi lebih baik, tapi yang membedakan satu orang dengan yang lainnya adalah seberapa cepat dia mampu berubah. Alloh tidak pernah mengajarkan hamba-hambaNYA untuk mendendam sayang. Tidak pernah mengajarkan hamba-hambaNYA untuk menjadi pengecut dan selalu menyalahkan keadaan. Karena itu, bunda memafkan ayahmu. Bunda harap kau juga begitu.
Percayakanlah hati dan dirimu hanya pada Alloh, hanya Dia penjaga yang tidak pernah mengecewakan siapapun yang bergantung padaNYA. Jika ada waktu untuk sekedar menengok ke luar, manatapi angkasa yang penuh dengan gemerlap bintang. Maka engkau akan menemukan bunda berada di sana. Di tempat terindah di sisi Nya. Jika ada waktu untuk sedikit merenung, menengok jauh ke dalam hatimu yang terdalam. Maka engkau akan menemukan bunda di sana. Selalu menjaga dan mendampingimu setiap waktu.
Ketika embun pagi menyapamu lembut, biarkan butiran air wudhu membasuh jiwamu dengan sejuk. Merentangkan tangan dan nenyambut hari dengan ceria sambil menyebut asma Nya.
Bunda akan selalu hidup bersama dengan satu mimpimu yang terwujud, bersama dengan “kaki-kaki” terindah yang kau ciptakan untuk mebuat bunda-bunda lainnya berlari di buliran pasir. Bersama dengan mu disetiap bahagia atas anugerah dariNya.
Selamat berjuang sayang…
Bunda sayaaang sekali sama Naia,
Salam sayang,
-Bunda-.”
[Auriga Centauri untuk "nona biru laut"]